Minggu, 01 Desember 2013

◦♥◦ Menanti kabar bahagia, datang kabar duka ◦♥◦


Hangat cerah mentari menyinari Minggu pagi Rara. Seperti biasa, Rara siswi kelas 3 SD membuka aktifitasnya di hari Minggu dengan latihan bela diri Karate ditemani Papa-nya. Latihan berjalan lancar seperti biasa. Tak ada firasat apapun yang dirasa Rara. Namun setibanya ia di Rumah, keadaan Rumah sepi. Amel, sepupu Rara yang tinggal tak jauh dari rumah Rara, datang menghampiri.

“Mama mu dibawa ke Rumah Sakit Ra,” kata Amel. “Kamu akan segera mendapatkan Adik” lanjut-nya.

Seketika hati Rara senang, dan dia pun tidak sabar ingin melihat Mama & adik-nya. Ketika itu, Mama Rara memang tengah hamil tua. Usia kandungan-nya sudah berjalan 10 bulan. Rara yang memang anak tunggal dikeluarga-nya, sudah lama menginginkan seorang adik.

“Ayo Pa, kita ke Rumah Sakit” ujar Rara membujuk Papa-nya. “Kakak ingin melihat Mama & dede bayi”, lanjut-nya.
‘Kakak’. Begitulah panggilan Rara sejak mengetahui bahwa Mama-nya tengah mengandung.
Setelah ganti baju, dengan segera mereka langsung pergi ke Rumah Sakit dimana Mama-nya Rara berada. Sesampai-nya disana, Rara melihat sanak saudara-nya sedang duduk santai di lorong Rumah Sakit. Kemudian Papa-nya Rara memasuki sebuah ruangan, diikuti Rara. Terlihat disebuah tempat tidur, Mama-nya Rara sedang terbaring lemas. Namun senyum masih menghiasi wajah-nya ketika melihat Rara dan Papa-nya datang.

“Mama” teriak Rara sambil berlari kearah Mama-nya.
Ingin rasa-nya Rara naik keatas tempat tidur & memeluk Mama-nya, namun dicegah. Ternyata proses melahirkan belum terjadi.

“Baru bukaan satu” ujar salah satu suster di Rumah Sakit tersebut.
 Rara sedikit paham maksud dari suster tersebut. Artinya, belum saatnya Mama-nya untuk melahirkan. Namun rasa sakit terlihat di raut muka Mama-nya, meskipun Mama-nya acap kali berusaha menutupi rasa sakit tersebut.

Siang menjelang sore, pihak Rumah Sakit belum juga menangani Mama-nya Rara. Beberapa sanak saudara Rara mengusulkan agar Mama-nya Rara dilakukan operasi caesar. Namun karena hari Minggu, Dokter yang biasa menangani operasi caesar tidak ada di Rumah Sakit. Rara beserta keluarga-nya kembali menunggu.

Ketika tengah menunggu, terdengar suara isak tangis dari orang-orang yang berada diruangan sebelah.
 “Itu kenapa Tante? Qo mereka pada nangis?” tanya Rara pada Tante-nya.
 “Ada yang pulang” jawab Tante-ny Rara singkat.
 Rara bingung dan kemudian bertanya lagi, “ Qo ada yang pulang malah nangis? Bukannya senang kalau pulang? Berarti kan udah sembuh”.
 “Bukan. Itu ada yang meninggal” jawab Tante-nya lagi.
 Seketika Rara membeku. Suasana Rumah Sakit yang menggambarkan suasana seram seperti yang biasa Rara lihat di TV, tiba-tiba memenuhi pikirannya.

Malam hampir tiba, pihak RS belum juga bertindak. Akhirnya Papa-nya Rara mengajak Rara untuk pulang kerumah. Pada awalnya Rara menolak, karena ia ingin sekali mendampingi Mama-nya. Namun setelah dibujuk, akhirnya Rara pun menurut.

“Ma, Kakak pulang” ucap Rara sedih ketika berpamitan dengan Mama-nya.
 “Iya kak” ujar Mama-nya. “Kakak pulang, sholat, terus doain Mama ya Kak” lanjut-nya.

Mungkin itu adalah kata-kata terakhir yang Rara dengar terlontar dari mulut Mama-nya. Sebuah kata-kata sederhana, namun bermakna besar.

Sesampainya diRumah, Rara langsung mandi kemudian sholat & berdoa. Tak ada firasat apapun dalam benak Rara. Yang ada hanya bayangan-bayangan kebahagiaan yang akan hadir menghiasi karena akan segera lahir anggota baru dikeluarga-nya.

Tak lama, Papa Rara kembali ke RS sedangkan Rara tetap diRumah ditemani beberapa sanak saudara-nya. Rara memang tinggal tak jauh dari rumah nenek & beberapa sanak saudara-nya. Seluruh keluarga besar-nya tak sabar menanti kabar bahagia itu.
Malam semakin larut hingga Rara pun tertidur pulas.

Ketika terbangun, Rara pun tersentak kaget melihat sudah ada banyak orang berkumpul diRumah-nya. Orang-orang yang berada tak jauh dari Rara melihat Rara dengan tatapan iba. Terlihat mereka saling berbisik, entah apa yang mereka bahas. Diruang tamu terdengar suara banyak orang tengah membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam hati Rara bertanya-tanya.
‘Ada apa? Kenapa ada banyak orang disini? Apa Mama & dede bayi sudah pulang? Tapi ini masih jam 3 pagi. Dan kenapa orang-orang ini menangis?’

Ketika Rara tengah sibuk dengan berbagai macam pertanyaan dipikiran-nya, salah seorang saudara yang memang berada tak jauh dari diri-nya berkata, “Mama mu meninggal Ra,”.

Rara terdiam. Terdiam & membisu. Tak ada kata yang keluar dari mulut-nya. Rara hanya terdiam & memperhatikan keadaan sekitar. Hingga akhirnya air mata-nya tumpah juga. Sanak saudara-nya mencoba menengkan Rara, namun Rara tetap menangis. Rara masih belum percaya dengan apa yang didengar-nya.
 Rara beranjak dari tempat tidur & segera mencari Papa-nya. Benar saja, diruang tamu ada beberapa orang yang tengah mengaji. Mereka duduk mengelilingi 2 sosok tertutup kain rapat. Rara tidak berani mendekat. Segera ia menemui Papa-nya yang berada dalam kamar orangtua-nya tersebut.

Ternyata Papa Rara sedang sibuk menelpon anak saudara-nya yang lain, hendak memberitahukan keadaan tersebut. Awalnya Rara ingin berlari menangis ke pelukan Papa-nya. Namun Rara mengurungkan niat-nya setelah ia melihat Papa-nya. Tak nampak air mata mengalir diwajah Papa-nya. Beliau nampak tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Rara sedikit bingung dengan keadaan itu.
 Papa-nya menoleh kearah Rara, namun beliau tak berkata apa-apa & langsung melanjutkan kesibukan-nya. Rara mendekat, kemudian bertanya, “Pa, apa dede bayi juga meninggal?”.
Mendengar pertanyaan itu, Papa-nya terdiam sejenak. Kemudian menjawab datar, “iya kak, dede bayi juga meninggal”.

Aneh. Rara tidak merasa sedih. Melihat Papa-nya berdiri tanpa raut kesedihan, seakan memberi kekuatan pada Rara untuk tidak menangis. Sampai saat Mama & adik-nya dimakamkan pun Rara tidak menangis. Orang-orang mengira, Rara masih terlalu kecil untuk bisa mengerti & merasakan rasa-nya kehilangan. Mereka salah. Justru Rara sangat mengerti & berusaha menyembunyikan kesedihannya itu dihadapan banyak orang, bahkan didepan Papa-nya sendiri.

Sejak saat itu, hidup Rara berubah 180 derajat. Walau banyak yang menemani ataupun berada ditengah keramaian, namun Rara tetap merasa sepi. Ada bagian yang hilang dalm hidupnya & itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Hari demi hari dilewati, hingga Rara beranjak dewasa, rasa sepi itu masih setia menemani. Terkadang Rara merasa, walau umur & kondisi fisik sudah mulai beranjak dewasa, namun hati & jiwa-nya masih tertinggal & berhenti di umur 8 tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar