Hangat cerah mentari
menyinari Minggu pagi Rara. Seperti biasa, Rara siswi kelas 3 SD membuka
aktifitasnya di hari Minggu dengan latihan bela diri Karate ditemani Papa-nya. Latihan
berjalan lancar seperti biasa. Tak ada firasat apapun yang dirasa Rara. Namun
setibanya ia di Rumah, keadaan Rumah sepi. Amel, sepupu Rara yang tinggal tak
jauh dari rumah Rara, datang menghampiri.
“Mama mu dibawa ke Rumah
Sakit Ra,” kata Amel. “Kamu akan segera mendapatkan Adik” lanjut-nya.
Seketika hati Rara
senang, dan dia pun tidak sabar ingin melihat Mama & adik-nya. Ketika itu,
Mama Rara memang tengah hamil tua. Usia kandungan-nya sudah berjalan 10 bulan.
Rara yang memang anak tunggal dikeluarga-nya, sudah lama menginginkan seorang
adik.
“Ayo Pa, kita ke Rumah Sakit”
ujar Rara membujuk Papa-nya. “Kakak ingin melihat Mama & dede bayi”,
lanjut-nya.
‘Kakak’. Begitulah panggilan
Rara sejak mengetahui bahwa Mama-nya tengah mengandung.
Setelah ganti baju,
dengan segera mereka langsung pergi ke Rumah Sakit dimana Mama-nya Rara berada.
Sesampai-nya disana, Rara melihat sanak saudara-nya sedang duduk santai di
lorong Rumah Sakit. Kemudian Papa-nya Rara memasuki sebuah ruangan, diikuti
Rara. Terlihat disebuah tempat tidur, Mama-nya Rara sedang terbaring lemas.
Namun senyum masih menghiasi wajah-nya ketika melihat Rara dan Papa-nya datang.
“Mama” teriak Rara sambil
berlari kearah Mama-nya.
Ingin rasa-nya Rara naik
keatas tempat tidur & memeluk Mama-nya, namun dicegah. Ternyata proses
melahirkan belum terjadi.
“Baru bukaan satu” ujar
salah satu suster di Rumah Sakit tersebut.
Rara sedikit paham maksud
dari suster tersebut. Artinya, belum saatnya Mama-nya untuk melahirkan. Namun
rasa sakit terlihat di raut muka Mama-nya, meskipun Mama-nya acap kali berusaha
menutupi rasa sakit tersebut.
Siang menjelang sore,
pihak Rumah Sakit belum juga menangani Mama-nya Rara. Beberapa sanak saudara Rara
mengusulkan agar Mama-nya Rara dilakukan operasi caesar. Namun karena hari
Minggu, Dokter yang biasa menangani operasi caesar tidak ada di Rumah Sakit.
Rara beserta keluarga-nya kembali menunggu.
Ketika tengah menunggu,
terdengar suara isak tangis dari orang-orang yang berada diruangan sebelah.
“Itu kenapa Tante? Qo
mereka pada nangis?” tanya Rara pada Tante-nya.
“Ada yang pulang” jawab
Tante-ny Rara singkat.
Rara bingung dan kemudian
bertanya lagi, “ Qo ada yang pulang malah nangis? Bukannya senang kalau pulang?
Berarti kan udah sembuh”.
“Bukan. Itu ada yang
meninggal” jawab Tante-nya lagi.
Seketika Rara membeku. Suasana
Rumah Sakit yang menggambarkan suasana seram seperti yang biasa Rara lihat di
TV, tiba-tiba memenuhi pikirannya.
Malam hampir tiba, pihak
RS belum juga bertindak. Akhirnya Papa-nya Rara mengajak Rara untuk pulang
kerumah. Pada awalnya Rara menolak, karena ia ingin sekali mendampingi
Mama-nya. Namun setelah dibujuk, akhirnya Rara pun menurut.
“Ma, Kakak pulang” ucap
Rara sedih ketika berpamitan dengan Mama-nya.
“Iya kak” ujar Mama-nya. “Kakak
pulang, sholat, terus doain Mama ya Kak” lanjut-nya.
Mungkin itu adalah
kata-kata terakhir yang Rara dengar terlontar dari mulut Mama-nya. Sebuah
kata-kata sederhana, namun bermakna besar.
Sesampainya diRumah, Rara
langsung mandi kemudian sholat & berdoa. Tak ada firasat apapun dalam benak
Rara. Yang ada hanya bayangan-bayangan kebahagiaan yang akan hadir menghiasi
karena akan segera lahir anggota baru dikeluarga-nya.
Tak lama, Papa Rara
kembali ke RS sedangkan Rara tetap diRumah ditemani beberapa sanak saudara-nya.
Rara memang tinggal tak jauh dari rumah nenek & beberapa sanak saudara-nya.
Seluruh keluarga besar-nya tak sabar menanti kabar bahagia itu.
Malam semakin larut
hingga Rara pun tertidur pulas.
Ketika terbangun, Rara
pun tersentak kaget melihat sudah ada banyak orang berkumpul diRumah-nya. Orang-orang
yang berada tak jauh dari Rara melihat Rara dengan tatapan iba. Terlihat mereka
saling berbisik, entah apa yang mereka bahas. Diruang tamu terdengar suara
banyak orang tengah membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Dalam hati Rara bertanya-tanya.
‘Ada apa? Kenapa ada
banyak orang disini? Apa Mama & dede bayi sudah pulang? Tapi ini masih jam
3 pagi. Dan kenapa orang-orang ini menangis?’
Ketika Rara tengah sibuk
dengan berbagai macam pertanyaan dipikiran-nya, salah seorang saudara yang
memang berada tak jauh dari diri-nya berkata, “Mama mu meninggal Ra,”.
Rara terdiam. Terdiam
& membisu. Tak ada kata yang keluar dari mulut-nya. Rara hanya terdiam
& memperhatikan keadaan sekitar. Hingga akhirnya air mata-nya tumpah juga.
Sanak saudara-nya mencoba menengkan Rara, namun Rara tetap menangis. Rara masih
belum percaya dengan apa yang didengar-nya.
Rara beranjak dari tempat
tidur & segera mencari Papa-nya. Benar saja, diruang tamu ada beberapa
orang yang tengah mengaji. Mereka duduk mengelilingi 2 sosok tertutup kain
rapat. Rara tidak berani mendekat. Segera ia menemui Papa-nya yang berada dalam
kamar orangtua-nya tersebut.
Ternyata Papa Rara sedang
sibuk menelpon anak saudara-nya yang lain, hendak memberitahukan keadaan
tersebut. Awalnya Rara ingin berlari menangis ke pelukan Papa-nya. Namun Rara
mengurungkan niat-nya setelah ia melihat Papa-nya. Tak nampak air mata mengalir
diwajah Papa-nya. Beliau nampak tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Rara
sedikit bingung dengan keadaan itu.
Papa-nya menoleh kearah
Rara, namun beliau tak berkata apa-apa & langsung melanjutkan kesibukan-nya.
Rara mendekat, kemudian bertanya, “Pa, apa dede bayi juga meninggal?”.
Mendengar pertanyaan itu,
Papa-nya terdiam sejenak. Kemudian menjawab datar, “iya kak, dede bayi juga
meninggal”.
Aneh. Rara tidak merasa
sedih. Melihat Papa-nya berdiri tanpa raut kesedihan, seakan memberi kekuatan
pada Rara untuk tidak menangis. Sampai saat Mama & adik-nya dimakamkan pun
Rara tidak menangis. Orang-orang mengira, Rara masih terlalu kecil untuk bisa
mengerti & merasakan rasa-nya kehilangan. Mereka salah. Justru Rara sangat
mengerti & berusaha menyembunyikan kesedihannya itu dihadapan banyak orang,
bahkan didepan Papa-nya sendiri.
Sejak saat itu, hidup
Rara berubah 180 derajat. Walau banyak yang menemani ataupun berada ditengah
keramaian, namun Rara tetap merasa sepi. Ada bagian yang hilang dalm hidupnya
& itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Hari demi hari dilewati,
hingga Rara beranjak dewasa, rasa sepi itu masih setia menemani. Terkadang Rara
merasa, walau umur & kondisi fisik sudah mulai beranjak dewasa, namun hati
& jiwa-nya masih tertinggal & berhenti di umur 8 tahun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar