Rabu, 11 Desember 2013

◦♥◦ Sudah menikah atau belum, kalian harus baca yang ini ◦♥◦

Mungkin kalian sudah pernah membaca kisah dibawah ini.
Namun bagi kalian yang belum pernah membacanya, coba baca, cermati, pahami & ambil hikmah dari kisah ini  ◦♥◦

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ketika aku tiba di rumah malam itu, istriku sedang menyiapkan makan malam. Aku memegang tangannya dan berkata, “Aku ingin membicarakan sesuatu.”
Dia duduk dan makan dengan tenang. Sekali lagi aku melihat ada luka di matanya, namun aku tidak tahu itu apa. Aku ingin bicara, tapi aku merasa bingung harus mulai dari mana. Akhirnya aku berkata, “Aku ingin bercerai.”
Dia tampaknya tidak terganggu oleh kata-kataku, bahkan dia hanya bertanya dengan lembut. “Mengapa?”
Aku menghindari pertanyaannya. Hal ini ternyata membuatnya marah. Dia membuang sumpit dan berteriak padaku, “kau bukan laki-laki!”
Malam itu , kami tidak berbicara satu sama lain. Dia menangis. Aku tahu dia ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan pernikahan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan.
Aku memiliki Jane sekarang. Aku tidak mencintai istriku lagi. Aku hanya mengasihaninya ! Dengan perasaan yang amat bersalah, aku menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil kami, dan 30 % saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan merobek-robeknya!
Wanita yang telah menghabiskan sepuluh tahun hidupnya denganku telah menjadi orang asing. Aku merasa kasihan padanya karena waktu dan energinya sudah terbuang…
Tapi aku tidak bisa menjilat ludahku sendiri karena aku mencintai Jane. Akhirnya istriku menangis dengan keras di depanku, yang sebenarnya sudah menjadi harapanku.
Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan….
Ide perceraian yang telah membuatku terobsesi selama beberapa minggu terakhir tampaknya lebih jelas sekarang.
Keesokan harinya, aku kembali ke rumah larut malam, dan menemukan dia menulis sesuatu di meja . Aku tidak makan malam tapi langsung tidur dan tertidur sangat cepat karena aku lelah setelah seharian bersama Jane. Ketika aku bangun, dia masih di posisinya semula. Aku tidak peduli dan tertidur lagi.
Di pagi hari dia memberitahu sesuatu yang cukup janggal, sebagai permintaannya sebelum kita bercerai. Dia meminta agar dalam satu bulan sebelum bercerai, kami berdua harus berhubungan seperti biasa. Alasannya sederhana: anak kami akan menghadapi ujian di sekolahnya dalam waktu satu bulan dan dia tidak ingin mengganggunya dengan kabar buruk.
Tapi dia memiliki permintaan lain lagi. Dia memintaku untuk menggendongnya setiap pagi, seperti saat aku membawanya ke kamar pengantin pada hari pernikahan kami….
Dia meminta agar setiap hari selama sebulan aku bisa menggendong dia keluar dari kamar tidur ke pintu depan. Aku pikir dia sudah gila . Namun, karena ini merupakan hari-hari terakhir kami bersama-sama, aku menerima permintaannya yang aneh itu.
Aku bilang Jane tentang kondisi ini. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya.
“Tidak peduli apa trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi perceraian ini,” jane mencemooh.
Aku dan istriku tidak pernah kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu secara eksplisit. Jadi ketika aku menggendongnya keluar pada hari pertama, kami berdua tampak canggung.
Anak kami menepuk punggung kami, “Ayah membopong ibu,” kata-katanya melahirkan rasa sakit di hatiku.
Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan lebih dari sepuluh meter dengan ia dalam gendongan tanganku. Dia menutup matanya dan berkata lembut, “jangan memberitahu anak kita tentang perceraian”.
Aku mengangguk, merasa agak kesal. Aku menurunkannya di luar pintu. Dia pergi untuk menunggu bus untuk bekerja. Aku pergi sendirian ke kantor.
Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebahkan diri di dadaku. Aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa sudah lama aku tidak pernah begitu memperhatikannya….
Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi. Ada kerutan halus di wajahnya. Rambutnya mulai beruban…
Pernikahan kami telah membuatnya jadi korban. Untuk sesaat aku bertanya-tanya apa yang telah kulakukan padanya.
Pada hari keempat, ketika aku mengangkatnya, aku merasakan keintiman itu kembali. Ini adalah wanita yang telah memberi sepuluh tahun hidupnya untukku. Pada hari kelima dan keenam, aku menyadari bahwa keintiman kami mulai tumbuh lagi. Aku tidak memberitahu Jane tentang hal ini.
Setelah hampir sebulan, menjadi lebih mudah untuk menggendongnya. Mungkin latihan sehari-hari membuat aku lebih kuat.
Pada suatu pagi, dia memilih apa yang akan dikenakannya. Lalu ia menghela napas, “semua gaunku telah membesar” ucapnya.
Aku tiba-tiba menyadari bahwa tubuhnya begitu kurus. Itulah alasan mengapa aku bisa membopongnya dengan ringan. Sontak aku tersadar, dia telah mengubur begitu banyak rasa sakit dan kepahitan di dalam hatinya. Tanpa sadar aku mengulurkan tangan dan menyentuh kepalanya.
Anak kami masuk pada saat itu dan berkata, “Dad, saatnya untuk membawa ibu keluar.”
Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar, menjadi bagian penting dari hidupnya. Istriku menunjuk ke anak kami untuk mendekat dan memeluknya erat-erat.
Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada menit terakhir ini. Aku kemudian membopongnya, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras.
Tangannya merangkul leherku dengan lembut dan alami. Aku menyangga badannya dengan kuat. Persis seperti hari dimana kami menikah.
Tapi berat badannya yang semakin ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku memeluknya dalam pelukanku, aku hampir tidak bisa bergerak selangkahpun. Anak kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluknya dengan kuat dan berkata, “aku tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra.”
Aku pergi ke kantor.
Melompat keluar dari mobil tanpa sempat mengunci pintu. Aku takut aku akan berubah pikiran.
Aku menemui Jane, dan berkata, “maaf, Jane. Aku tidak ingin bercerai".
Jane menatapku heran, dan kemudian menyentuh dahiku. “Kau kenapa?” tanyanya.
Aku lepaskan tangannya dari dahiku. “Aku tidak ingin bercerai,” kataku.
Aku lalu bercerita kalau kehidupan rumah tanggaku berantakan bukan karena kami tidak saling mencintai lagi, tapi karena kami kurang menghargai detail-detail dalam kehidupan kami…
Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku membawanya ke rumah pada hari pernikahan kami, aku seharusnya memeluknya sampai kematian memisahkan kita.
Jane terlihat kaget. Dia menamparku dengan keras dan membanting pintu. Ia menangis. Aku menuruni tangga dan pergi.
Di toko bunga di jalan, aku membeli karangan bunga untuk istriku. Pramuniaga bertanya kata-kata apa yang ingin kutulis dalam kartu. Aku tersenyum dan menulis, “aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian memisahkan kita”.
Malam itu aku tiba di rumah, bunga di tanganku, senyum di wajahku. Aku berlari naik tangga hanya untuk menemukan istriku di tempat tidur. Namun,,
Dia meninggal. Istriku telah tiada.
Istriku telah berjuang selama berbulan-bulan melawan kanker, tapi aku begitu sibuk dengan Jane. Dia tahu bahwa dia akan segera meninggal dan ia ingin agar anakku tidak menyalahkanku karena aku ingin bercerai. Setidaknya, di mata anak kami, aku suami dan ayah yang penuh kasih…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Begitulah kisahnya,,
Setelah membaca kisah diatas, apa pendapat kalian?
Comment yaa ..  ◦♥◦

Jumat, 06 Desember 2013

Maher Zain - Number One For Me

◦♥◦ Ibu ◦♥◦


Aku disini sendiri berteman sepi,,
Hidup ku tak lagi sempurna,,
Selalu saja terasa kurang tanpa kau disini,,
Ibu.
Rindu terkadang menyelimuti,,
Menyesakkan dada, hingga tanpa sadar bulir air mata mengalir dipipi,,
Rinduku akan sosok mu, peluk mu, senyum mu, tawa canda mu, marah mu, perhatian mu, nasehat mu, belai kasih sayangmu, dan semua tentangmu..
Aku rindu.
Ibu.

Minggu, 01 Desember 2013

◦♥◦ Menanti kabar bahagia, datang kabar duka ◦♥◦


Hangat cerah mentari menyinari Minggu pagi Rara. Seperti biasa, Rara siswi kelas 3 SD membuka aktifitasnya di hari Minggu dengan latihan bela diri Karate ditemani Papa-nya. Latihan berjalan lancar seperti biasa. Tak ada firasat apapun yang dirasa Rara. Namun setibanya ia di Rumah, keadaan Rumah sepi. Amel, sepupu Rara yang tinggal tak jauh dari rumah Rara, datang menghampiri.

“Mama mu dibawa ke Rumah Sakit Ra,” kata Amel. “Kamu akan segera mendapatkan Adik” lanjut-nya.

Seketika hati Rara senang, dan dia pun tidak sabar ingin melihat Mama & adik-nya. Ketika itu, Mama Rara memang tengah hamil tua. Usia kandungan-nya sudah berjalan 10 bulan. Rara yang memang anak tunggal dikeluarga-nya, sudah lama menginginkan seorang adik.

“Ayo Pa, kita ke Rumah Sakit” ujar Rara membujuk Papa-nya. “Kakak ingin melihat Mama & dede bayi”, lanjut-nya.
‘Kakak’. Begitulah panggilan Rara sejak mengetahui bahwa Mama-nya tengah mengandung.
Setelah ganti baju, dengan segera mereka langsung pergi ke Rumah Sakit dimana Mama-nya Rara berada. Sesampai-nya disana, Rara melihat sanak saudara-nya sedang duduk santai di lorong Rumah Sakit. Kemudian Papa-nya Rara memasuki sebuah ruangan, diikuti Rara. Terlihat disebuah tempat tidur, Mama-nya Rara sedang terbaring lemas. Namun senyum masih menghiasi wajah-nya ketika melihat Rara dan Papa-nya datang.

“Mama” teriak Rara sambil berlari kearah Mama-nya.
Ingin rasa-nya Rara naik keatas tempat tidur & memeluk Mama-nya, namun dicegah. Ternyata proses melahirkan belum terjadi.

“Baru bukaan satu” ujar salah satu suster di Rumah Sakit tersebut.
 Rara sedikit paham maksud dari suster tersebut. Artinya, belum saatnya Mama-nya untuk melahirkan. Namun rasa sakit terlihat di raut muka Mama-nya, meskipun Mama-nya acap kali berusaha menutupi rasa sakit tersebut.

Siang menjelang sore, pihak Rumah Sakit belum juga menangani Mama-nya Rara. Beberapa sanak saudara Rara mengusulkan agar Mama-nya Rara dilakukan operasi caesar. Namun karena hari Minggu, Dokter yang biasa menangani operasi caesar tidak ada di Rumah Sakit. Rara beserta keluarga-nya kembali menunggu.

Ketika tengah menunggu, terdengar suara isak tangis dari orang-orang yang berada diruangan sebelah.
 “Itu kenapa Tante? Qo mereka pada nangis?” tanya Rara pada Tante-nya.
 “Ada yang pulang” jawab Tante-ny Rara singkat.
 Rara bingung dan kemudian bertanya lagi, “ Qo ada yang pulang malah nangis? Bukannya senang kalau pulang? Berarti kan udah sembuh”.
 “Bukan. Itu ada yang meninggal” jawab Tante-nya lagi.
 Seketika Rara membeku. Suasana Rumah Sakit yang menggambarkan suasana seram seperti yang biasa Rara lihat di TV, tiba-tiba memenuhi pikirannya.

Malam hampir tiba, pihak RS belum juga bertindak. Akhirnya Papa-nya Rara mengajak Rara untuk pulang kerumah. Pada awalnya Rara menolak, karena ia ingin sekali mendampingi Mama-nya. Namun setelah dibujuk, akhirnya Rara pun menurut.

“Ma, Kakak pulang” ucap Rara sedih ketika berpamitan dengan Mama-nya.
 “Iya kak” ujar Mama-nya. “Kakak pulang, sholat, terus doain Mama ya Kak” lanjut-nya.

Mungkin itu adalah kata-kata terakhir yang Rara dengar terlontar dari mulut Mama-nya. Sebuah kata-kata sederhana, namun bermakna besar.

Sesampainya diRumah, Rara langsung mandi kemudian sholat & berdoa. Tak ada firasat apapun dalam benak Rara. Yang ada hanya bayangan-bayangan kebahagiaan yang akan hadir menghiasi karena akan segera lahir anggota baru dikeluarga-nya.

Tak lama, Papa Rara kembali ke RS sedangkan Rara tetap diRumah ditemani beberapa sanak saudara-nya. Rara memang tinggal tak jauh dari rumah nenek & beberapa sanak saudara-nya. Seluruh keluarga besar-nya tak sabar menanti kabar bahagia itu.
Malam semakin larut hingga Rara pun tertidur pulas.

Ketika terbangun, Rara pun tersentak kaget melihat sudah ada banyak orang berkumpul diRumah-nya. Orang-orang yang berada tak jauh dari Rara melihat Rara dengan tatapan iba. Terlihat mereka saling berbisik, entah apa yang mereka bahas. Diruang tamu terdengar suara banyak orang tengah membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam hati Rara bertanya-tanya.
‘Ada apa? Kenapa ada banyak orang disini? Apa Mama & dede bayi sudah pulang? Tapi ini masih jam 3 pagi. Dan kenapa orang-orang ini menangis?’

Ketika Rara tengah sibuk dengan berbagai macam pertanyaan dipikiran-nya, salah seorang saudara yang memang berada tak jauh dari diri-nya berkata, “Mama mu meninggal Ra,”.

Rara terdiam. Terdiam & membisu. Tak ada kata yang keluar dari mulut-nya. Rara hanya terdiam & memperhatikan keadaan sekitar. Hingga akhirnya air mata-nya tumpah juga. Sanak saudara-nya mencoba menengkan Rara, namun Rara tetap menangis. Rara masih belum percaya dengan apa yang didengar-nya.
 Rara beranjak dari tempat tidur & segera mencari Papa-nya. Benar saja, diruang tamu ada beberapa orang yang tengah mengaji. Mereka duduk mengelilingi 2 sosok tertutup kain rapat. Rara tidak berani mendekat. Segera ia menemui Papa-nya yang berada dalam kamar orangtua-nya tersebut.

Ternyata Papa Rara sedang sibuk menelpon anak saudara-nya yang lain, hendak memberitahukan keadaan tersebut. Awalnya Rara ingin berlari menangis ke pelukan Papa-nya. Namun Rara mengurungkan niat-nya setelah ia melihat Papa-nya. Tak nampak air mata mengalir diwajah Papa-nya. Beliau nampak tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Rara sedikit bingung dengan keadaan itu.
 Papa-nya menoleh kearah Rara, namun beliau tak berkata apa-apa & langsung melanjutkan kesibukan-nya. Rara mendekat, kemudian bertanya, “Pa, apa dede bayi juga meninggal?”.
Mendengar pertanyaan itu, Papa-nya terdiam sejenak. Kemudian menjawab datar, “iya kak, dede bayi juga meninggal”.

Aneh. Rara tidak merasa sedih. Melihat Papa-nya berdiri tanpa raut kesedihan, seakan memberi kekuatan pada Rara untuk tidak menangis. Sampai saat Mama & adik-nya dimakamkan pun Rara tidak menangis. Orang-orang mengira, Rara masih terlalu kecil untuk bisa mengerti & merasakan rasa-nya kehilangan. Mereka salah. Justru Rara sangat mengerti & berusaha menyembunyikan kesedihannya itu dihadapan banyak orang, bahkan didepan Papa-nya sendiri.

Sejak saat itu, hidup Rara berubah 180 derajat. Walau banyak yang menemani ataupun berada ditengah keramaian, namun Rara tetap merasa sepi. Ada bagian yang hilang dalm hidupnya & itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Hari demi hari dilewati, hingga Rara beranjak dewasa, rasa sepi itu masih setia menemani. Terkadang Rara merasa, walau umur & kondisi fisik sudah mulai beranjak dewasa, namun hati & jiwa-nya masih tertinggal & berhenti di umur 8 tahun.